I see My Future in My NightMare

the new terrorist

the new terrorist

Yah, entah mengapa pagi ini aku berada di sebuah tempat yang dikelilingi species manusia dari berbagai category, entah itu muda, tua, kanak-kanak dan aku tak ingin menyebut textur nya. Tapi, anehnya mereka memiliki kesamaan yakni, mereka memakai tuxedo dan berkacamata hitam.

Apakah aku berada dalam sebuah oraganisasi rahasia? Atau kah aku masih bermimpi? Atau aku juga sedang memakai kacamata hitam sehingga semua yang ku lihat menjadi hitam? Pertanyaan demi pertanyaan merasuk benakku yang sedang menikmati pemandangan dari sudut pertemuan dua lorong memanjang yang dimana sejauh mata memandang aku hanya melihat species aneh bertuxedo hitam sedang berbincang dengan mimic serius. Penasaran yang mendasariku tuk melihat seluruh daerah yang belum kupastikan tempat apa ini dan baru kusadari bahwa disetiap sudut terdapat sebuah camera pengintai. Akhirnya pertanyaan pertama terjawab sudah.

Tapi, organisasi apakah ini? Apa yang mereka lakukan padaku? Kenapa bisa aku berada dalam situasi seperti ini? Senti demi senti ku raba daerah tubuhku, aku takut akan kehilangan satu atau dua apalagi tiga anggota tubuhku yang pelakunya sudah bisa kutebak . Sempurna. Tak ada lecet, semuanya normal kecuali aku merasa rambutku sedikit rapi atau dengan bahasa gaulnya *botak*. Yah, penasaran lagi yang membuat sendi pada lutut dan pahaku bergerak dan menyebabkan adanya suatu dorongan yang memindahkan tubuhku dari tempat sebelumnya ke tempat ini.

Aku sudah berada di samping dua species yang sedang asyik mengobrol dengan raut muka yang serius. Takut, atau bisa dibilang nervouse. Aku tak tahu harus memulai obrolan dengan kata apa. Ingat, setiap gerak gerik ku terekam oleh suatu alat dan ada seseorang diseberang sana sedang asyik mengamatiku. Salah gerak atau ucapan yang membuat tensi darah mereka naik, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada tubuhku yang langsing ini atau dengan bahasa gaulnya *kurus*. Rambut apalagi akan mereka renggut dariku.

Konsep percakapan telah selesai dalam otak ku, dan “Hai” hanya sapaan standard dan diketahui oleh semua orang di dunia yang keluar dari bibir merahku dari sekian banyak kata sapaan yang telah aku persiapkan dalam *cpu* tubuhku. Sungguh ironi. Apalagi ditambah manusia itu tidak meresponku.

“Assalamu Alaikum”, sapaku lagi dengan senyum se-ekspresif mungkin agar manusia yang kutafsir berumur 30an ini merespon. Satu.. dua.. tiga detik ku menanti dan untuk kedua kalinya species ini tidak menghiraukanku. “Bahasa apa yang membuat mereka mengerti?”, gumamku dalam hati. Rasa kecewa menuntunku mencari orang lain yang mengerti keadaanku sekarang.

Tak… Tak… Tak… aku menyarankan pada kakiku agar lebih berhati-hati, lantai ubin ini seperti merekam setiap langkahku. Tingkat keamanan disini bisa dibilang ketat. Aku menuju seorang anak muda berumur 20an sedang berdiri di salah satu tiang membelakangi arah datangnya cahaya dan juga memainkan pisau yang terkadang memantulkan cahaya matahari ke arahku. Sistem adrenalinku meningkat dan memberikan status *siaga satu*.

“Nice Knife”, pujiku menatap sinar matahari.

“Yah, kau tak ingin merasakannya kan?”, balasnya. GLEKK tak kuduga akan mendapat jawaban yang membuat status adrenalinku menjadi *waspada*.

“Tentu tidak, kalau boleh tahu, apa nama tempat ini, tuan Ar?”, tanyaku sambil melihat papan namanya yang disekelilingnya dipenuhi bintang emas.

“Tak ada identitas, tidak ada informasi”, balasnya cuek. Yah, aku tidak memakai tuxedo dan kacamata hitam sebagai identitas mereka. Tak ada babibu lagi, kujelaskan padanya mengapa aku ada disni secara tiba-tiba, namun seperti dengan dugaanku, ia hanya menyuruhku pergi atau pisau itu akan menggertakku. Ada dua pilihan, segera pergi atau informasi berhasil kudapat dengan imbalan nyawaku. Dendrit di otakku berhasil mengerakkan kakiku menjauh dari orang yang berhasil membuat produksi keringatku meningkat. Aku sudah tak berani menatap matanya, tapi mataku tertuju pada pistol bertuliskan *nightmare*. Tetap berjalan hingga aku berada di sudut pertemuan dua lorong.

BRAAAAKK!

Satu per sekian detik pintu di ujung lorong hancur dan seseorang bertuxedo hitam, tak berkacamata, memegang dual pistol berlari mendekatiku dan dibelakangnya dua ohh tidak, tujuh orang berlari seperti mengejar orang yang telah berada 25meter dariku. Nampak jelas rupa orang itu, berhidung mancung, bibir merah, tatapan mata yang mengisaratkan status *bencana* padaku, rambut rapi stelan Rowan Atkinson, mirip denganKU sebelum botak, jangan bilang itu masa depanku. OHTIDAKK. Kaki nya tidak memiliki rem, aku ingin menepi tapi malah tanganku berusaha membentuk tameng, menutup mata kiri dan bersiap ditabrak.

Tapi takdir berkata lain, ia melompatiku dengan tangguhnya dan bersiap membelok ke satu satunya yang kusadari Ar telah mengambil ancang-ancang ingin melempar pisau kesayangannya ke arah tubuh masa depanku.

“AWASSS!”, teriakku mengingatkan tubuh masa depanku yang masih berlari menuju Ar dengan tangan kanannya membidik jantung Ar.

DUARRRR!

Mataku reflex memejamkan mata mendengar suara tembakan. Perlahan ku buka mata untuk melihat keadaan. “MELESET!”, teriakku. Tapi terlambat, Ar telah melempar pisau kea rah tubuh masa depanku. Entah mengapa, pisau melayang itu diberi efek slowmotion hingga

SRIIIIIING!

Pisau itu tepat mengenai jantung tubuh masa depanku hingga membuat tubuh itu terlempar ke belakang tepat di hadapanku. Ia menatapku dan perlahan memejamkan mata untuk selamanya.
“Barang bukti dan saksi harus dihilangkan kan?”, kata Ar mengagetkanku dengan pistol di depan jidatku. Mataku melotot melihat pelatuk pisto Ar yang bertuliskan *nightmare*.

DUARRRR!

Aku terbangun di tempat tidurku, kuraba jidatku tak ada luka atau peluru. Ahh, rambutku juga masih lebat ala Rowan Atkinson. Bendungan keringat udah jebol dan aku meyakinkan diriku kalau ini hanya sebatas mimpi*lirik walaupun “I see My Future in My NightMare”.

About rafsanjanii

jangan cuman diliat dong!! berikan komentar yak?

Posted on 16 June 2011, in mine. Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: